ADAT ISTIADAT MELAYU JAMBI

Dalam kehidupan sehari-hari istilah kebudayaan bukanlah hal yang baru, bahkan seringkali diperbincangkan orang baik itu ilmuan maupun oleh masyarakat umum. Namun demikian masing-masing orang belum tentu memiliki pengertian dan pemahaman yang sama tentang kebudayaan. Berikut ini adalah pemahaman tentang kebudayaan, antara lain adalah sebagai berikut.

1)     Kebudayaan adalah produk masyarakat, yang berperan mendorong terwujudnya ketertiban, kerukunan, kedamaian, kesetikawanan sosial, dan kesejahteraan manusia.2)     Kebudayaan adalah wujud tanggapan manusia terhadap tantangan kehidupan sebagai hasil adaptasi dengan lingkungannya.

3)     Kebudayaan adalah proses belajar (pewarisan) nilai,  ide, gagasan, norma, tindakan dan hasil karya manusia kepada generasi berikutnya.

4)     Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi kerangka landasan bagi mewujudkan dan mendorong terwujudnya kelakuan.

5)     Kebudayaan merupakan mikanisme tata kelakuan manusia dalam menggapai masa depan yang lebih sempurna.

6)     Dari pemahaman tersebut maka yang dimaksud dengan budaya lokal (local culture) adalah kebudayaan asli yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat pendukungnya, yakni kebudayaan masyarakat suku / masyarakat lokal.

Untuk Kebudayaan Melayu Jambi yang diwarnai oleh 3 corak kebudayaan yakni, Kebudayaan Melayu Pra Sejarah, Kebudayaan Melayu Buddhis dan Kebudayaan Melayu Islam. Kebudayaan Melayu Jambi adalah perpaduan (akulturasi) antara unsur budaya Melayu Jambi yang bercorak ; 1) animisme, 2) dinamisme, 3) unsur Melayu Budhisme, 3) unsur budaya Melayu Islam. Namun demikian ciri-ciri aslinya tidak hilang. Unsur-unsur lokal dari Kebudayaan  Melayu Jambi adalah sebagai berikut.

No

UNSUR BUDAYA LOKAL

KULTURAL ITEM

1

Upacara Kepercayaan Tradisional
Upacara Hari besar keagamaan, kematian / tahlilan (3, 7, 40, 100, 1000 hari), Tale Naik Haji (pelepasan jemaah haji), naik bubung rumah, sunatan, kelahiran bayi, keayik mandi, besale, cuci parit, minta hujan, syukuran, nuak, qekah, pemberian gelar adat, kenduri sko, penyambutan tamu, betunang, antar belanjo, pernikahan, dll.

2

Organisasi Kemasyarakatan.
Pemerintahan adat / otonomi, pegawai syarak, kepemimpinan adat, peradilan adat, musyawarah adat, tanah adat (ulayat), bekarang / ngacau danau, induk semang, organisasi bujang-gadis, pantang adat, pegawai syarak, kekerabatan, dll.

3

Gotong Royong.
Adat beselang, nugal, naik bubung rumah, menangkap ikan sunai / danau, tebas hutan, dll.

4

Kepemimpinan
Pimpinan Di Ujung Tanjung, Pimpinan Ayam Gedang, Pimpinan Buluh Bambu, Pimpinan Ketuk-Ketuk, Pimpinan Busuk Aring, Pimpinan Pisak Celano, Pimpinan Tupai Tua.

5

Perkawinan
Adat melamar, antar belanjo, pernikahan, sedekah, bersanding, upacara, dll.

6

Pendidikan
Pendidikan informal, formal, non formal, metode pendidikan, guru, murid, dll.

7

Bahasa
Sloko adat, pantun, tulisan Arab Gundul, tulisan Encong, sastera, dialek bahasa Melayu Jambi, dll

8

Kesenian
Tari tauh, tari dana, hadrah, Abdul Muluk, kompangan, tale naik haji, besale, bedikir, begijol, bemujuk, bemalim, lesung gilo (lesung becekak), ambung gilo, lukah gilo, kebar (bekunun), dadung, gendang Melayu (redab / dab), kelintang kayu, beduk, dll.

9

Pergaulan Muda Mudi
Adat betandang malam, numpang berangat, betunang, tukar kain, pantun, dll.

10

Mata Pencarian Hidup
Adat besawah dan umo, kalangan, pasar beduk, adat berburu, adat lubuk larangan, adat danau larangan, adat lupak lebung, adat beternak kerbau, adat nubo ikan, adat tebas ladang, adat panen getah jelutung dan jernang, betanam gadung, panjat madu sialang, adat berburu, adat jual-beli, dll.

11

Bangunan
Mesjid, rumah bengen, rumah larik, bilik padi, rumah kerbau, bangunan candi, balai-balai, dll.

12

Peralatan dan perlengkapan hidup (teknologi)
Pakaian (pengantin, pakaian adat, pakaian ke sawah /ladang, pakaian mandi). Pertanian (kincir air, kisaran, lesung). Beburu (jaring, jerat, tombak, tiruk, kujur, tugal, beliung) Perdagangan (dacing, cupak, gantang). Perhubungan (perahu, angkong). Perikanan/Nelayan (jalo, bubu, sukam). Rumah tangga (ambung, tikar, bakul, periuk, peti), dll.

13

Permainan
Gasing, main tali, silat, sepak rago, layang-layang, engran bambu, engran sayak, bedil-bedilan, umban tali, sepak bulu ayam, pacu perahu, catur rajo, adu renang, adu nyelam, pukul bantal, engke-engke, dll.

14

Pengelolaan Sumber daya alam
Tebas hutan, rotan / manau, jelutung, balam merah, jernang, sialang, jata/jati, pertambangan, perikanan, kebun (padang), nubo ikan, dll.

15

Makanan dan Minuman
Makanan (nasi minyak, gadung, sagu), lauk-pauk (gulai tempoyak, brengkes ikan, bekasam ikan / daging rusa, udang kerutup, ikan kerutup, seluang bebanis, sate ikan, masak itam, gulai umbut rotan, gulai umbut pisang, gulai umbut kelapa, bekasam rebung, sambal nanas, sambal macang, sambal kemang), kue-kue (lemang, dodol, engkak ketan, kue bawang putih, senggang, gandus), minuman (air niro enau, air sepang, air kawo, cuko kelapo, dll.

16

Ilmu Pengetahuan
Pengetahuan tentang manusia, hewan, tumbuhan, alam gaib, musim, filsafat, pengobatan, arsitektur, pemerintahan otonom, dll.

17

Pajak
Pancung Alas, bungo kayu, bungo pasir, jajah turun serah naik, selaran, dll.

18

Hukum Adat
Undang-Undang sawah ladang, tasik tambang, gunung bukit, hutan tanah, lupak lebung, payo rawang, tanjung teluk, danau laut, rimba-remban.

19

Pengobatan (Perubatan)
Pengobatan secara gaib /upacara, jampi, obatan dari tumbuhan.

II.        MASYARAKAT ADAT

Etnis (suku) asli Melayu Jambi pada awalnya hidup mendiami kawasan daerah daerah aliran sungai (DAS) Batanghari dan daerah dataran tinggi. Etnis asli Melayu Jambi tersebut antara lain adalah sebagai berikut ; 1) Suku Kerinci, 2) Suku Batin, 3) Suku Bangsa Duabelas, 4) Suku Penghulu, dan 5) Suku Kubu (Orang Dalam). Dalam teori migrasi penduduk, Suku Kerinci, suku Batin dan Suku Kubu tergolong manusia Proto Malay (Melayu Tua). Sedangkan etnis lainnya digolongkan sebagai manusia Deutro Malay (Melayu Muda).

Disamping itu di daerah Jambi hidup pula etnis pendatang yang menyatu dengan etnis asli. Etnis pendatang yang mendiami daerah Jambi antara lain adalah etnis Palembang, Minang, Jawa, Bugis, Banjar, Arab, Cina, dll. Mereka inilah sejak ratusan tahun lampau melatar belakangi berkembangnya kebudayaan Melayu Jambi.

Kehidupan sosial budaya masyarakat Melayu Jambi mencerminkan corak komunitas masyarakat adat dengan pola kepemimpinan adatnya. Dalam sloko adat struktur masyarakat adat Melayu Jambi secara hirarkis disebutkan sebagai berikut.

1)     Alam berajo.

2)     Rantau bejenang.

3)     Negeri bebatin.

4)     Luak bepenghulu.

5)     Kampung betuo.

6)     Rumah betengganai.

Sedangkan hirarkis kepemimpinan adat Melayu Jambi adalah sebagai berikut.

1)     Alam sekato rajo

2)     Rantau sekato jenang.

3)     Negeri sekato batin.

4)     Luak sekato penghulu.

5)     Kampung sekato tuo.

6)     Rumah sekato tengganai.

Terhadap kelangsungan hidup dan masa depan adat Melayu Jambi maka Ninik Puyang Melayu Jambi telah pula menyampaikan pesan adat sebagai berikut.

Hidup dikandung adat

Mati dikandung tanah.

Mati anak gempar serumah.

Mati adat gempar sebangso.

Biar mati anak daripado mati adat.

III.                PEMBAHARUAN ADAT

Undang-Undang Adat Jambi bersumber pada Undang-Undang Nan 20. Undang-Undang Nan 20 ini adalah produk hukum adat yang telah berkembang sejak zaman Melayu Buddhis. Undang-Undang ini berisikan pokok hukum yang mencakup 20 perkara dan disebut juga sebagai Induk Undang. Diperkirakan Undang-Undang ini paling kurang telah ada sejak abad 7 Masehi di kerajaan Melayu Kuno dan Sriwijaya.

Pada awal abad 17 sampai saat pemerintahan Pangeran Kedak Abdul Kohar, gelar Sultan Abdul Kohar (1615-1643), negeri Jambi mulai melakukan pembaharuan Undang-Undang Adat. Pembaharuan diperlukan karena kondisi sosial masyarakat di dalam negeri telah banyak mengalami perubahan, sehingga nilai-nilai budaya Melayu Budhis dipandang tidak sesuai lagi dengan kondisi masyarakat yang telah banyak berubah dipengaruhi oleh unsur-unsur Islam. Karena itu maka pemakaian/pelaksanaan Undang-Undang Nan Duapuluh perlu dilakukan koreksi (teliti). Untuk maksud tersebut maka para ahli hukum adat mulai melakukan perbaikan hukum adat Melayu Jambi. Karena perubahan undang-undang adat belum selesai pada masa pemerintahan Sultan Abdul Kohar (1615-1643) maka dilanjutkan pada masa pemerintahan Pangeran Depati Anom, gelar Sultan Agung (1643 – 1665 M). Pemerintahan Sultan Agung dapat menyelesaikan program perubahan hukum adat tersebut.

Dalam catatan sejarah Jambi perubahan hukum adat yang dilakukan pada abad 17 M itu mencakup beberapa hal pokok, antara lain sebagai berikut.

  1. Undang-Undang Nan Duapuluh, sama sekali tidak diubah namun dijadikan sebagai Induk-Undang karena dipandang cukup baik dan baku.
  2. Undang-Undang Nan Duapuluh dipisahkan menjadi 2 bagian yakni Undang Nan Delapan dan Undang Nan Duabelas.
  3. Melakukan teliti (mencari benar dalam salah) terhadap pemakaian pokok Undang-Undang Nan Duapuluh yang dipengaruhi adat bengin (purbokalo), lalu dipadukan (akulturasi) dengan unsur-unsur Islam (agama), sehingga melahirkan filosofis adat yakni Adat Bersendi Syarak dan Syarak Bersendi Kitabullah.
  4. Undang Nan Delapan disebut pula sebagai Pucuk Undang yang mengandung 16 butir yang terdiri dari delapan di atas, disebut Undang Semato-Mato dan delapan di bawah, disebut Ikuk Undang Kepala Peseko.

UNDANG-UNDANG NAN 8

No

Delapan (8) Di atas

Delapan (8) Di bawah

1

Samun, artinya perampokan dengan pembunuhan.
Sakal, perampokan hanya merampas harta.

2

Dagi, artinya kesalahan terhadap negeri
Dagi artinya memfitnah.

3

Sumbang, artinya perbuatan tidak pantas dari sudut agama, moral, etika, dll
Salah, artinya perbuatan yang terbukti bersalah.

4

Upas, menganiaya orang melalui makanan/minuman dengan ramuan berbisa sehinga sakit
Racun, menganiaya orang lain melalui makanan/minuman dengan racun berbisa sehinga sakit dan mati.

5

Maling / rebut / Tarik, artinya perbuatan mengambil paksa harta orang lain.
Curi / rampas / rentak, artinya perbuatan mengambil hak atau harta orang lain seperti menyamun, merampok, dll.

6

Umbuk, artinya perbuatan membujuk orang lain sehingga terjebak ke dalam kejahatan.
Umbi, artinya perbuatan mengulur waktu sehinga orang lain teraniaya.

7

S i a r, membakar dusun

Bakar, membakar sebagian rumah saja.

8

Tikam, artinya melukai orang dengan sengaja/tidak.
Bunuh, artinya mematikan orang dengan benda tajam / bukan tajam.

UNDANG-UNDANGNAN12

NO
BUTIR UNDANG-UNDANGNAN12
KET

1
Undang -undang yang takluk dengan hak Allah

2
Undang-undang yang takluk dengan anak adam dan hak-haknya.

3
Undang-undang yang takluk dengan hak rumah nan bertengganai dan kampung nan bertuo.

4
Undang-undang yang takluk dengan hak luhak nan berpenghulu.

5
Undang-undang yang takluk dengan hak negeri nan berbatin.

6
Undang-undang yang takluk dengan alam nan berajo.

7
Undang-undang hukum, luka bepampas, mati dibangun, salah berhutang,sumbing menitip, pinjam mengembalikan.

8
Undang-undang yang takluk dengan hak perkawinan semendo menyemendo.

9
Undang-undang yang takluk dengan hak penghidupanpencarian, kepandaian, dan pekerjaan.

10
undang-undang yang takluk dengan hak harta benda berat dan ringan.

11
Undang-undang yang takluk dengan hak permainan-permainan.

12
Undang-undang yang berkaitan dengan kekayaan alam, laut, darat, sawah, ladang, tasik, tambang, gunung, bukit, hutan, tanah, lupak, lebung, payo, rawang, tanjung, teluk, danau , rimba, dan remban.

  1. IV.     ADAT DAN SELOKO ADAT

Menurut Madong Lubis dalam bukunya Dalam Keindahan Bahasa Indonesia (1944), seloko adalah pantun berkait. Menurut B. Simorangkir dalam Kesusastraan Indonesia I (1957) mengatakan bahwa seloko itu tidak lain dari pada bidal atau pepatah berirama. Sabaruddin Ahmad dalam bukunya Seluk Beluk Bahasa Indonesia (1949), mengatakan bahwa seloko itu adalah pantun berangkai. Menurut Dr. C. Hooykaas dalam bukunya Perintis Sastra (1951), mengatakan bahwa seloko adalah sanjak 4 baris, tiap baris terdiri 4 perkataan atau 8 – 11 suku kata. Menurut R.B. Slamet Mulyana dalam bukunya Bimbingan Seni Sastra (1951), mengatakan bahwa seloko itu terdiri 4 pada, tiap 2 pada merupakan 1 baris, jadi 1 seloko terdiri 2 baris, dan tiap-tiap baris dipotong di tengah-tengah. Dan menurut Sutan Moh. Zain dalam bukunya Zaman Baru mengatakan bahwa seloko boleh terdiri 2 baris, 4 baris, 6 baris atau lebih, segala kalimatnya mempunyai hubungan logis seperti halnya syair. Ucapan-ucapan di dalam seloko adat terkadang singkat singkat kalimatnya, namun bisa banyak, bagus kata-katanya, kata-katanya berkias dan beribarat, ada kalanya berirama, dan menyerupai sajak. Setiap kalimat seloko adat, mengandung makna sesuai dengan arti bahasa setempat. Menurut Fachruddin Saudagar (2007), kaidah-kaidah yang mengandung pokok hukum adat adalah seloko adat.

Dari banyak pengertian tersebut di atas maka yang dimaksud dengan seloko adat ialah pepatah (bidal) berirama, berkait, berangkai menyerupai sajak, dan isinya berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan sosial manusia. Seloko Adat tidak dapat dipisahkan dengan induknya yakni adat, oleh karena itu seloko adat berisikan rumusan, dalil, pedoman / petunjuk pelaksanaan adat istiadat dalam kehidupan masyarakat pendukungnya. Di Riau seloko adat ini disebut juga gurindam dan di Palembang dan Minangkabau disebut juga petatah-petitih adat.

Ditinjau dari segi filosofis, seloko adat pada hakikatnya (intinya) berisikan pokok atau dasar hidup bermasyarakat yang meliputi hampir semua aspek kehidupan manusia. Oleh karena itu seloko adat paling kurang memiliki 6 fungsi sebagai berikut.

1)          Sebagai kesusastraan yang bernilai tinggi.

2)          Sebagai pedoman dasar (literatur) adat.

3)          Sebagai alat masyarakat unuk menjaga ketertiban umum.

4)          Sebagai sarana komunikasi manusia.

5)          Sebagai referensi (kamus) adat bagi masyarakat Melayu Jambi.

6)          Pedoman dalam kearifan manusia /bermasyarakat.

Di dalam bukunya dengan judul Pendidikan Seloko Adat Melayu Jambi Bak Butiran Emas di Sungai Batang Hari, diterbitkan Yayasan Forkkat Jambi, Fachruddin Saudagar (2008) menjelaskan bahwa Adat Melayu Jambi paling sedikit dapat dbedakan 34 kategori, antara lain sebagai berikut ; Adat Istiadat, Persatuan dan Kesatuan, Kemakmuran Negeri, Pemimpin, Kekacauan Negeri, Bermasyarakat, Musyawarah, Pedoman Hidup, Keadilan / Bijaksana, Tanggung Jawab, Kebenaran, Kerjasama, Ilmu Pengetahuan, Persahabatan, Hukum, Perjuangan, Perkawinan, Kesalahan, Sumpah Karang Setio, Sumber Daya Alam, Tolong Menolong, Bersabar, Cinta Kasih, Politik, Pergaulan Bujang-Gadis, Perubahan, Pendidikan, Menerima Tamu, Mata Pencarian / Ternak, Harta Benda, Keluarga, Hemat / Pemborosan, Larang Pantang, Harapan

Berikut ini adalah contoh Seloko Adat Melayu Jambi yang berkaitan dengan Ilmu Pengetahuan pada masyarakat Jambi.

No
Bentuk
Makna

1
Bak menarik rambut dalam tepung, rambut idak putus, tepung idak tumpah.
Berhati-hati.

2
Bekaul tempat nan keramat, betanyo pada nan tahu.
Sesuai dengan tugas dan fungsinya.

3
Bungkal nan bepiawai, arus nan bedegung.
Sesuatu masalah dapat diselesaikan oleh ahlinya.

4
Cerdik idak membuang kawan, gemuk idak membuang lemak, tukang idak membuang kayu, gedang idak melando, panjang idak melilit.
Orang cerdik

5
Di agak baru di agih.
Perencanaan (diperkirakan) dengan baik.

6
Di sisik di siang dengan teliti, idak ado silang nan idak sudah, idak ado kusut nan idak selesai, kusut diusai keruh dijernihkan.
Setiap masalah yang di hadapi harus di teliti terlebih dahulu.

7
Disingkapkan tabir akalnya, dibukakan pintu ilmunya, dibentangkan alam seluas-luasnya.
Jalan mulus yang terbentang.

8
Dulukan akal dari pado usuho.
Rencanakan terlebih dahulu sebelum dilaksanakan.

9
Ingin tahu panjangnyo sungai tanyolah seluang mudik, ingin tahu derasnyo sungai tanyolah anggau-anggau, ingin tahu dalamnyo sungai tanyolah berang-berang, ingin tahu buah lah masak tanyolah ke tupai.
Bertanyo kepada ahlinya.

10
Ibarat buah banyak raso, ibarat bungo banyak mambu.
Pengalaman luas, dewasa.

11
Jauh bejalan banyak di suo, lamo hidup banyak diraso.
Banyak pengalaman.

12
Keruh aek di ilir perikso di ulu, senak aek di ulu perikso di muaro.
Telitilah semua kejadian dengan mengusut tempat dan sebab terjadinya.

13
Kemalingan di tempat nan rami, Tekicuh di tempat urang banyak.
Tertipu di depan mata.

14
Kurang sisik rumput menjadi. Kurang siang jelapang (tunas) tumbuh.
Kurang hati-hati dapat berakibat buruk.

15
Menarik rambut dalam melukut, melukut idak beserak rambut idak putus.
Hati-hati.

16
Meletakkan sesuatu pada tempatnya, nan buto peniup lesung, nan pekak pelepas bedil, nan lumpuh penunggu rumah, nan patah pengejut ayam, nan buruk pelantun gawe, nan elok pelantun dune, kain baju peneding miang, emas-perak peneding malu, idak ado beras atah di kisai.
Orang pandai / tahu

17
Mengaji belum tahu dibaris, membaco belum tahu dikitab.
Merendah diri.

18
Mengango dulu baru becakap
Belajar dahulu, memperhatikan pendapat orang lain.

19
Ambik tuah pado nan menang, ambik contoh pado nan sudah, ico pakai pado nan banyak.
Berpedoman sebaiknya pada hal – hal yang sudah pernah terjadi (adat).

20
Meruncing tanduk, meluas kelaso.
Suka berkelahi, berbuat apa saja, sampai ingin bertikaman.

21
Menembak idak salah alamat, bejalan idak salah langkah.
Tepat.

22
Nan ado tempat bekintang, nan cerdik tempat berunding.
Orang memiliki ilmu dan kearifan.

23
Nan pandai tempat beguru, nan tahu tempat betanyo.
Ilmuan

24
Kian berisi kian runduk, kian tahu kian betanyo, kian pandai kian beguru.
Orang berilmu pengetahuan.

25
Perahu lentik dak do bepagar, kurang lajunyo.
Orang tanpa ilmu pengetahuan (bodoh).

26
Telampau arif badan celako, idak arif badan binaso, jangan bepikir sekali lalu, jangan behemat sekali sudah.
Berpikir panjang, hati-hati.

27
Tukang pandai tidak buang kayu, gemuk idak membuang lemak, cerdik idak membuang kawan, gedang jangan melando, panjang jangan melilit, elok diambil dengan mufakat.
Cerdik

28
Tunjuk ajar tegur sapo, makin tau makin di tunjuk makin cerdik makin di ajar makin pandai makin disapo.
Orang pintar.

29
Tuo sabut timbul, tuo batu tenggelam
Berjalan sesuai dengan fungsinya.

30
Terdampar samo kering, terendam samo basah.
Artinya kelalaian dapat mendatangkan kerugian mungkin malapetaka.

31
Tibo di bukit minta aek, tibo di lurah minta angin.
Artinya tidak pada tempatnya (sia-sia).

32
Tidak menambah pematang sawah, tidak menambah periuk nasi.
Artinya memang tepat atau cocok.

V.   PEJABAT DAN GELAR ADAT

Etnis (suku) Melayu Jambi yang sejak ratusan tahun lampau menjadi penduduk negeri Jambi adalah Suku Kerinci, Suku Batin, Suku Bangsa Duabelas, Suku Kubu, Suku Penghulu dan Suku Pindah. Dalam kehudupan sehari-hari mereka mengenal banyak macam gelar adat. Ada gelar adat untuk pejabat kerajaan dan ada gelar adat untuk kaum bangsawan. Keragaman etnis Melayu di daerah Jambi mencerminkan pula adanya keragaman adat. Namun demikian mereka memilki banyak kesamaan akar budaya.

Penduduk negeri Jambi pada masa kerajaan dapat dipisahkan dalam 2 kelompok besar yakni Anak Buah Kerajaan Nan Berpenghulu dan Anak Buah Rantau Nan Berjenang.

Dilihat dari segi penyebaran etnis maka Suku Bangsa Duabelas adalah etnis Melayu yang paling dominan di daerah Jambi. Sampai pada akhir masa pemerintahan Sultan Thaha Syaifuddin (1904 M), institusi jabatan adat bagi etnis Melayu dari Suku Bangsa Duabelas adalah sebagai berikut.

1)     Suku Bangsa Duabelas termasuk Anak Buah Rantau Nan Berpenghulu ( Orang Berajo).

2)     Tidak ada kepala bagian / daerah bagi Suku Bangsa XII.

3)     Kepala Dusun, secara langsung di bawah kuasa Sultan dengan perantaraan Pangeran.

4)     Susunan pemerintahan dusun terdiri dari :

  1. Seorang Penghulu.
  2. Seorang Mangku.
  3. Yang dibantu dengan 1 orang Menti (Penyiar), dan 1 orang pejabat atau alingan.

5)     Kepala kelebu (luak / lurah) adalah seorang ‘tuo’.

6)     Kepala keluarga adalah ‘tengganai’.

7)     Tuo dan tengganai bukan orang pembawa kuasa (bukan pejabat pemerintah), tetapi adalah pejabat adat.

8)     Jabatan kepala kelebu dapat secara turun temurun.

9)     Pemerintahan Kampung untuk dusun yang besar terdiri dari 1 orang kepala dusun yang dibantu dengan 1 – 2 orang mangku.

10)   Distrik adat terdiri dari dari beberapa buah dusun.

11)   Kepala distrik adat menggunakan gelar ; Kranggo, Temenggung, Pasirah, kedemang, dan atau Pemuncak.

12)   Dibawah Temenggung, Kedemang dan Jenang terdapat jabatan dengan gelar Depati,Rio, Ngebih, Lurah, dan Penghulu.

13)   Di bawah Depati,Rio, Ngebih, Lurah dan Penghulu adalah jabatan Mangku dan atau Menti.

14)   Orang Batin (etnis Batin) tidak masuk orang berajo dan ia wajib pajak.

15)   Kepala distrik Orang Batin adalah Jenang.

16)   Kepala Sub distrik adat menggunakan gelar ; Pembarap.

17)   Kepala Dusun menggunakan gelar ;Rio, Ngebih, depati.

18)   Mangku menggunakan gelar ; Penggawa.

19)   Pasirah atau demang dan atau wakil demang disebut Datuk.

Gelar adat untuk pejabat pemerintah adalah melekat dengan jabatan secara stuktural. Sedangkan gelar untuk kelompok etnis adalah turun-temurun. Diantara kelompok masyarakat adat yang mendiami daerah Jambi adalah ; 1) kelompok permbesar kerajaan, 2) kaum bangsawan, 3) Orang Keraton, 4) Orang Perban, 5) Raja Empat Puluh (40), 6) Orang Kedipan, 7) Orang Kemas, 8) Orang Arab, 9) Orang Cina, 10) Penduduk biasa, 11) Kaum Buruh/Pekerja, 12) Kaum Tepunggah (Hukuman).

Gelar Raden dipakai oleh kaum laki-laki dari golongan bangsawan keturunan keraton, perban, kedipan, dan raja empat puluh. Sedangkan kaum pria Orang Kemas memakai gelar kemas pada namanya. Kaum wanita golongan keraton memakai gelar ratu mas, sedangkan wanita golongan perban memakai gelar tumas. Bagi wanita golongan kedipan menggunakan gelar nyimas. Gelar-gelar ini dapat diwariskan kepada anak-cucunya. Sedangkan bagi keturunan Arab masih tetap dengan bangga meneruskan memakai gelar / keluarganya seperti Bafadhal, Syech, Aljufri, Habib, Al Hadad, dll.

Pada masa lampau zaman raja-raja di dalam etnis Etnis Bangsa Duabelas dijumpai adanya gelar yang melekat dalam pejabat pemerintahan. Gelar pejabat tersebut antara lain adalah sebagai berikut.

No

Suku Bangsa XII

Tugas Dalam Negeri

Gelar Kepemimpinan
Pusat Permukimaan

1

7 Koto 9 Koto
Keamanan/AngkatanPerang
Temenggung
Sungai Abang

2

Petajin
Pertukangan/Pembangunan
Penghulu Muda/Pasirah/Luah (Lurah)
Betung Bedara

3

Marosebo
Ketertiban Hukum/Polisi
Demang
Kampung Baru Pedalaman

4

Jebus
Rajosari (Raja Sehari)
Temenggung
Jebus

5

Air Hitam
Perekonomian/Lumbung
Pasirah
Lubuk Kepahyang

6

A w i n
Pengawal di belakang Raja
Ngebih
Pulau Kayu Aro

7

Penagan
Pengawal pribadi didepan raja
Ngebih
Kuap

8

Miji
Peraduan dan Kesehatan Raja
Temenggungdan Ngebih.
Sekernan

9

Pinokawan
Rumah tangga dan kurir Raja
Ngebih
Sungai Duren

10

Mestong
Persenjataan
Ngebih
Sarang Burung

11

Kebalin
Serdadu/Prajurit
Ngebihdan Jagopati
Terusan

12

Pemayung
Kesenian
Temenggung
Sungai Terap

Di luar gelar pada etnis Suku Bangsa Duabelas masih ada pula gelar-gelar pada etnis Kerinci, Suku Batin, dan Suku Anak Dalam.

No

G E L A R

Etnis Kerinci
Etnis Batin
Suku Kubu

1
Jenang
Jenang
Jenang

2
Temenggung
Temenggung
Temenggung

3
Depati.
Depati
Depati

4
Mangku
Mangku
Mangku

5
Menti
Menti
Menti

6
Debalang Batin
Debalang Batin.
Debalang Batin.

Sebelum ajaran Islam berpengaruh kuat dalam keraton ada gelar tan untuk nama laki-laki dan dang untuk nama wanita. Sedangkan untuk raja menggunakan gelar sunan. Pada masa peralihan atau awal Islam sekitar akhir abad 11 – awal abad 12 ditemui juga gelar Orang Kayo. Setelah pengaruh Islam semakin kuat, gelar pangeran diberikan sebagai gelar khusus untuk keturunan keraton. Sedangkan gelar pangeran ratu secara khusus hanya dipakai oleh calon pengganti raja, biasanya untuk putera mahkota. Namun ada juga gelar pangeran ini diberikan oleh raja atau sultan kepada orang tertentu yang dipandang sangat berjasa kepada raja.

Pemakaian gelar pangeran tidak berdiri sendiri tapi masih dilengkapi lagi dengan kata/istilah lainnya begitu pula dengan gelar yang lain tidak berdiri sendiri. Gelar pangeran yang sering dipakai pada masa lampau antara lain adalah sebagai berikut.

  1. Pangeran Mangku.
  2. Pangeran Termenggung.
  3. Pangeran Adipati Mangku Ningrat.
  4. Pangeran Surio Noto Keramo.
  5. Pangeran Jayaningrat.
  6. Pangeran Wiro Kesumo.
  7. Pangeran Ariojayo Kesumo.
  8. Pangeran Noto Menggolo.
  9. Pangeran Suro Mangku Negoro.
  10. Pangeran Mangku Negoro.
  11. Pangeran Diponegoro.
  12. Pangeran Perbo.
  13. Pangeran Martojoyo Kesumo.
  14. Pangeran Kerumo Dilogo, dll

Sedangkan gelar lain yang diberikan oleh raja/sultan untuk pejabat kerajaan tertentu antara lain sebagai berikut

  1. Jenang.
  2. Temenggung.
  3. Depati.
  4. Mangku.
  5. Menti.
  6. Penghulu.
  7. Dubalang.
  8. Jagopati.
  9. Demang/Kedemang
  10. Ngebih, dll.
VI.     BAYAR ADAT

Dalam adat Melayu Jambi disebutkan ada 2 perkara kesalahan adat yakni kesalahan besar dan kesalahan kecil. Kesalahan besar ada 4 perkara yakni :

1)      Menikam bumi (menzinahi ibunya)

2)      Mencarak telur (menzinahi anak kandungnya).

3)      Menyunting bungo setangkai (menzinahi adik kandung atau adik ipar)

4)      Mandi di pancuran gading (berbuat kesalahan dengan isteri raja atau isteri pejabat dan atau isteri orang lain).

Pada zaman dahulu hukum adat yang diberikan kepada pelanggaran terhadap 4 perkara tersebut adalah hukuman mati. Namun sejak adanya pembaharuan adat pada abad 17 M maka hukuman mati telah diubah dengan hukuman adat, antara lain adalah sebagai berikut.

1)     Beras seratus gantang (250 kg).

2)     Kerbau seekor.

3)     Kain putih 16 kayu.

4)     Lengkap dengan selemak semanisnya dan seasam segaramnya.

Sedangkan kesalahan kecil mencakup 2 perkara yakni perselisihan antara satu dengan lain dan kesalahan antara bujang dengan gadis. Perselisihan antara satu dengan lain seperti perselisihan cekak-kelahi, betimbang tangan, lembam balu, luko lukis, kecuali pembunuhan. Hukuman tentang perselisihan antara satu dengan lain adalah sebagai berikut.

1)     Lembam balu, hukumannya membayar tepung tawar.

2)     Luka sedikit mengeluarkan darah, hukumannya membayar nasi putih-kuah kuning berupa ayam se-ekor dan beras segantang (10 canting), sebagai tando perdamaian.

3)     Luko tekuak membayar kambing seekor, beras 20 gantang, kain 4 kayu serta selemak-semanisnya dan seasam segaramnya.

Kesalahan Bujang Dengan Gadis

No

Jenis Kesalahan

Hukuman Adat

1

Sumbang Salah:a.Tegak 2 gandeng 2 antara bujang dengan gadis.b.Tegak beduo tempat lengang/sepi.

c.Duduk beduo ditempat kelam, dll.

Membayar ayam seekor dan beras segantang.

2

Salah Bujang dengan gadis:Bergapai tangan pada bagian terlarang badan gadis, dll.
Membayar kambing seekor, beras 20 gantang dengan selemak semanisnya.

3

Satu mau satu tidak mau:Tepekik tepingkan, tetampung tetangkai (ketahuan memperkosa).
Membayar kambing seekor, beras 20 gantang dengan selemak semanisnya.

4

Berbuat Salah Bujang Dengan Gadis:Ubi berisi tebu beemas (hamil diluar nikah)
Keduanya dinikahkan dan membayar seekor kambing atau kerbau, beras 20 gantang dengan selemak semanisnya.

5

Kedapatan Salah Bujang Dengan Gadis :Ketangkap basah .
Membayar kambing seekor, beras 20 gantang dengan selemak semanisnya

Dalam sejarah kebudayaan Melayu Jambi pada sekitar abad 19 salah satu barang yang berfungsi sebagai pembayar adat adalah kain. Kini sejak unsur kain sebagai barang bernilai dalam membayar adat telah ditinggalkan dan pembayaran adat meliputi 5 pembayaran.

1)     Untuk kesalahan kecil seperti cekak-kelahi, betimbang tangan, lembam balu, luko lukis, dll, maka berlaku Hukum Serbo 2 adalah membayar ayam 1 ekor, kelapo betali (2 buah), beras sepenampan, selemak-semanis dan seasam segaramnya

2)     Untuk kesalahan seperti Luko tekuak, kesalahan bujang dengan gadis, dll, maka berlaku Hukum Serbo Duapuluh (20) adalah membayar 1 ekor kambing, kelapo 20 buah, beras 20 gantang, lengkap dengan selemak semanis dan seasam segaramnya

3)     Untuk kesalahan melanggar ketertiban umum seperti bagi rumah tangga tidak mau membuat jamban dan tepian pakai kurung (tutup), dll, maka berlaku Hukum Serbo Empatpuluh (40) adalah membayar 2 ekor kambing, kelapo 40, beras 40 gantang, lengkap dengan selemak manis dan seasam segaramnya

4)     Untuk kesalahan merusak kandang umo/ kebun termasuk ternak, maka berlaku Hukum Serbo Enampuluh (60) adalah membayar setengah kerbau, kelapo 60, beras 60 gantang, lengkap selemak semanaisnya dan seasam segaramnya

5)     Untuk kesalahan besar seperti pembunuhan, berzinah dll, maka berlaku Hukum Serbo Seratus (100) adalah membayar 1 ekor kerbau, kelapo 100 buah, beras 100 gantang, lengkap dengan selemak semanisnya dan seasam segaramnya

VII.        ORANG DATANG

Dalam adat Melayu Jambi yang dimaksud warga / rakyat adalah seseorang yang berstatus adat sebagai anak-buah. Sebagai anak buah merupakan persyaratan penting untuk menjadi warga negeri Jambi. Persyaratan lainnya mematuhi adat setempat dan bermasyarakat, berdusun, berkampung dan bergaul seperti penduduk asli. Dengan syarat ini maka orang datang (pendatang) dapat diterima menjadi warga negeri Jambi. Dengan aturan tersebut sebenarnya Orang Melayu Jambi tidak membedakan kelompok atau etnis sepanjang mengikuti adat, misalnya seseorang perantau datang ke negeri Jambi dan ingin menetap maka ia terlebih dahulu harus memperoleh status anak buah. Anak buah dapat diperoleh dengan jalan sebagai berikut.

1)     Orang semendo, artinya orang datang kawin.

2)     Orang datang menepat, hinggap mencingkap terbang menumpuh artinya orang datang menyerah diri, mengaku induk, bapak, saudara, atau anak kepada penduduk asli.

3)     Tenggang waktu selama 1 tahun padi atau 6 bulan telah hidup bermukim di Jambi maka orang datang tersebut telah menjadi warga Jambi.

Bilamana orang datang / etnis pendatang masuk negeri Jambi melalui 3 ketentuan tersebut di atas maka hak-haknya disamakan dengan anak-buah asli, sebab adat mengatakan :

1)     Dimano laras dicencang, disano aek diminum.

2)     Dimano bumi dipijak, disano tanaman tumbuh (tembilang tecacak).

3)     Dimano periuk pecah, disano tembikar tinggal.

4)     Adat diisi lembago dituang.

Karena merupakan syarat, maka segala aturan adat dimana berada mestilah diturut, sebab adat mengatakan “adat diisi lembago dituang”. Setelah itu maka yang bersangkutan dengan daya upayanya haruslah hidup bermasyarakat dengan berikhtiar mengupayakan sangseko seperti ladang, kebun, sialang, padang durian, padang duku, tebat, tanaman, dll.  Sejak ratusan tahun lampau antara etnis asli (Etnis Kerinci, Suku Batin, Suku Bangsa Duabelas, Suku Penghulu, dan Suku Kubu) telah lama hidup berdampingan dengan etnis pendatang seperti Etnis Palembang, Jawa, Bugis, Minang, Bajau, dan Melayu Timur, Cina, Arab dll. Kehadiran etnis pendatang di Jambi tidak menjadi permasalahan sepanjang mengikuti aturan adat setempat.

DAFTAR BACAAN

  1. Anonim, 1983, Sistem gotong royong dalam masyarakat pedesaan daerah Jambi, Departemen Pendidikan danKebudayaanRI, Jambi.
  2. ———, 1986, Dampak modernisasi terhadap hubungan kekerabatan pada Suku Bangsa Melayu Jambi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jambi.
  3. ———, 1986, Upacara tradisional dalam kaitannya dengan peristiwa alam dan kepercayaan daerah Jambi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jambi.
  4. ———, 1986, Sistem kesatuan hidup setempat daerah Jambi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jambi.
  5. ———, 1993, Konsep buku acuan adat istiadat daerah Propinsi Dati I Jambi, Lembaga Adat Propinsi Daerah Tingkat I Jambi.
  6. ———, 1993, Materi pembekalan adat istiadat bagi kepala desa / kelurahan dalam Propinsi Dati I Jambi, Tanggal 9 – 13 Februari 1993, Pemerintah Daerah Tingkat I Jambi.
  7. ———, 1999, Undang-undang No 9 tahun 1985 tentang perikanan, Himpunan peraturan perundang-undangan perikanan bidang pengawasan sumberdaya ikan, Dirjen Perikanan, Jakarta.
  8. ———, 2001, Suaka perikanan Propinsi Jambi, Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Jambi.
  9. ———, 2002, Peranan hukum adat dalam pengelolaan perikanan,  Makalah Dinas Pertanian dan Pengembangan Agribisnis Kabupaten Merangin, Bangko.
  10. ———, 2002, Identifikasi unsur budaya melayu jambi, Rekomendasi Dialog Budaya Melayu Jambi, YBLB Jambi, 20 Oktober 2002, Jambi.
  11. C.L.Brinkam, 1879, Sumatera Expeditie, Uitgegeven van wege het Aardrijkskunding Genootschap Amsterdam.
  12. Eva Zulvita, Mukhlis, dkk, 1995, Adaftasi sosial budaya transmigrasi spontan orang Bugis di Jambi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jambi.
    1. Fachruddin Saudagar, 2000, Tanah Adat Dan Daerah Otonom, Jambi.
    2. ————–, 2008, Pendidikan Seloko Adat Melayu Jambi Bak Butiran Emas                 di Sungai Batang Hari, Yayasan FORKKAT Jambi.
    3. Ir. Yuddi, 2002, Pengelolaan lubuk larangan dan manfaatnya bagi masyarakat nelayan kabupaten Bungo, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bungo, Kasubdin Perikanan, Muara Bungo.
    4. M.Nazir, 1991, Alat perikanan tradisional di daerah Batanghari, Dirjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jambi.
      1. Rd.Djakfar Kartopaty, Djuli 1958, Sedjarah Daerah Djambi, Jambi.
      2. S.Gravenhage dan Martinus Nijhoff, 1912, Adatrechts bundel V, Koninklijk insituut de taal land en vulkenkunde van Nederlandsch Indie, Amsterdam.

Sumber : Melangun
Editor   : Radio Idola FM Jambi

Related

Serba Jambi 2651661436954248495

Poskan Komentar

Silahkan Isi Komentar, Tanggapan, Kritik atau Saran dari Anda untuk Para Pembaca Sekalian. Hindari Komentar yang Mengarah kepada Konflik SARA. Terima Kasih atas Partisipasi yang Anda Berikan kepada Kami.

emo-but-icon

Hot in Week

Komentar



item